Seperti judulnya, Film Kejar Daku Kau Kutangkap banyak menangkap prestasi. Tapi ia juga mengejar ambisi: memotong presumsi minor di masyarakat.
Film bergenre komedi romantis ini merupakan tonggak baru perfilman Indonesia. Pada dasarnya, film ini hendak mengejek sikap “kelelakian dan keperempuanan” yang berlebihan dalam hubungan antar jenis (J.B Kristanto,1998). Dan karena itu, ia telah berhasil mengangkat tema yang cukup menarik di masyarakat.
Tidak salah apabila kemudian Kejar Daku Kau Kutangkap berhasil menyabet 8 (delapan) nominasi untuk kategori-kategori utama seperti Film Terbaik, Sutradara Terbaik (Chaerul Umam), Pemeran Utama Pria Terbaik (Deddy Mizwar), Pemeran Utama Wanita Terbaik (Lydia Kandouw), Pemeran Pembantu Wanita Terbaik (Ully Artha), Pemeran Pembantu Pria Terbaik (Ikranegara), Penata Musik Terbaik (Franki Raden) dan Skenario Terbaik (Asrul Sani), dalam FFI (Festival Film Indonesia).
Film komedi romantis ini memulai ceritanya dari kehidupan rumah tangga antara Ramadhan (Deddy Mizwar) dan Ramona (Lydia Kandou). Romantisme dalam hubungan rumah tangga dua sejoli ini digambarkan tidak berlangsung lama. Ketidaksiapan kedua belah pihak untuk menjalani hidup rumah tangga memunculkan permasalahan-permasalahan yang sebenarnya berakar dari ego masing-masing pihak. Rentetan konflik itu akhirnya berujung pada pisah rumah antara keduanya.
Disinilah bentuk sindiran dan penolakan terhadap stereotipe mulai diperlihatkan. Bentuk sindiran dan penolakan terhadap stereotyping pembedaan jenis kelamin digambarkan pada tiap adegan yang dimainkan oleh Lydia Kandow, Deddy Mizwar, Ully Artha, dan Ikranegara.
Lydia Kandow digambarkan sebagai seorang perempuan yang mewakili anggapan umum tentang perempuan yang beredar di masyarakat, yaitu lemah lembut, pemalu, dan suka bekerja di sektor domestik, yaitu rumah tangga saja, sekaligus juga suka berbelanja. Begitu pula pada kharakter yang dimainkan oleh Deddy Mizwar. Karakter Deddy dianggap mewakili nilai (mitos?) lelaki yang kuat dan bertindak sebagai kepala rumah tangga yang mencari nafkah. Namun, dua karakter itu diimbangi oleh karakter lain yang justru menampilkan penolakan terhadap stereotipe yang dibebankan kepada lelaki dan perempuan, yaitu watak peran yang dimainkan oleh Ully Artha dan Ikranegara.
Lydia Kandow yang pemalu, selalu ditutupi oleh kharakter Ully Artha yang tegas pada setiap permasalahan. Sedangkan kharakter Deddy Mizwar yang kurang tegas kepada perempuan, disadarkan oleh Ikranegara sebagai pengamat kepribadian perempuan.
Pengimbangan kharakter yang satu dengan yang lain terasa lucu karena seringkali bentuk ideal (yang merupakan hasil stereotipe dari masyarakat) disadarkan dengan kenyataan yang harus disesuaikan dengan keadaan lingkungannya. Dan bisa saja, stereotipe itu juga menjadi bentukan masyarakat untuk kepentingan-kepentingan tertentu. Seperti yang terlihat dalam kalimat yang diucapkan oleh Ikranegara,
“Tahukah kau permainan perempuan “kejar daku..kejar daku…biar kau kutangkap…”? dalam permainan itu seorang lelaki seolah-olah mengejar perempuan, tapi ternyata yang ketangkap adalah lelaki itu sendiri…
Orang menyebut bahwa wanita adalah kaum yang lemah. Kau tahu siapa yang menyebut seperti itu? Perempuan sendiri. Sebab dengan adanya gagasan itu, lelaki yang paling konyol dan loyo sekalipun bisa jadi ksatria yang jantan. Lalu laki-laki senang. Tapi perempuan juga yang untung, sebab laki-laki bisa dijadikan pesuruh yang disuruh mengangkat barang-barang yang berat sampai tulang kita hampir putus.”
Dalam dialog yang diucapkan oleh Ikranegara tersebut terlihat suatu keinginan untuk menolak pemahaman terhadap stereotipe yang dimunculkan oleh masyarakat. Bahwa ternyata stereotipe itu juga memiliki pemahaman-pemahaman yang tersembunyi.
Film ini juga secara cerdas menolak memberikan pengajaran terhadap kaum perempuan, bahwa stereotipe itu bukan hal yang nyata di dunia ini. Hal ini diperlihatkan dalam adegan antara Lydia Kandaw dan Ully Artha. Pada adegan itu, Ully Artha memberikan pendapat kepada Lydia untuk tidak begitu saja mengikuti dan memaafkan tingkah laku suaminya yang keterlaluan, karena selalu marah-marah dan pulang larut malam. Hingga akhirnya kharakter Lydia Kandaw yang pemalu dan penakut menjadi lebih “garang” dan berani memberontak kepada suaminya.
Narasi “pemberontakan” belum berhenti sampai disitu. Deddy Mizwar akhirnya juga merencanakan pembalasan kepada Lydia Kandaw dengan berpura-pura selingkuh, agar bisa tetap memperjuangkan kekuatannya untuk mengatur dan mengontrol sang istri—yang kemudian ternyata malah menimbulkan masalah baru, karena Lydia Kandaw akhirnya memutuskan untuk pindah rumah dan tidak mau bertemu Deddy Mizwar lagi.
Pertemuan-pertemuan antara kharakter laki-laki yang berkuasa dan kharakter perempuan yang lemah tersebut ternyata tidak berhasil ketika digunakan untuk menjalankan sebuah hubungan keluarga. Inti yang penting adalah senantiasa adanya penolakan-penolakan terhadap stereotipe yang beredar di masyarakat. Moral dalam cerita yang bisa diambil adalah bahwa dibutuhkan suatu penyesuaian-penyesuaian dalam membangun sebuah hubungan. Bukan saatnya lagi perempuan menjadi makhluk yang ditindas oleh lelaki, dan juga bukan saatnya lagi apabila lelaki terus menerus berperan sebagai makhluk yang kuat dan tidak bisa dikalahkan oleh perempuan.
Akhir cerita yang menunjukkan persatuan antara Deddy dan Lydia itu seolah menunjukkan kepada penontonnya bahwa stereotipe itu hanyalah suatu bentukan masyarakat yang kadangkala juga bisa memunculkan masalah yang besar. Kehidupan tidak harus berpedoman pada stereotipe yang ada. Dan akhirnya acungan jempol patut diarahkan pada film yang berhasil melewati penyensoran oleh pihak Orde Baru ini, walaupun secara tidak langsung, film ini dibuat untuk menolak penegasan stereotipe oleh pihak orde Baru.
No comments:
Post a Comment