Showing posts with label jurnalisme. Show all posts
Showing posts with label jurnalisme. Show all posts

August 09, 2010

Bung Hatta dan Sepatu Bally

Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada sepatu itu. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang untuk meminta pertolongan. Hingga akhir hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta. Pada hal, jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sangatlah mudah bagi beliau untuk memperoleh sepatu Bally. Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri.

Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta, apalagi di tengah carut-marut zaman ini.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain.

Seandainya bangsa Indonesia dapat meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing.


Pendapat Meutia Hatta (Salah satu anak Bung Hatta)

Kesederhanaan keluarga Bung Hatta serta sangat kokohnya mantan wakil presiden itu berpegang pada prinsip mungkin dapat disimak dari penuturan Meutia mengenai kisah sebuah mesin jahit. Sewaktu ayahnya masih menjadi orang nomor dua di republik ini, ternyata untuk membeli sebuah mesin jahit pun tidak bisa dilakukan begitu saja.

Menurut antropolog dari Universitas Indonesia tersebut, ibunya -Rahmi Hatta- harus menabung sedikit demi sedikit dengan cara menyisihkan sebagian dari penghasilan yang diberikan Bung Hatta.

Namun rencana membeli terpaksa ditunda, karena tiba-tiba saja pemerintah waktu itu mengeluarkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp 100 menjadi Rp 1. Akibatnya, nilai tabungan yang sudah dikumpulkan Rahmi menurun dan makin tidak cukup untuk membeli mesin jahit.

"Karena ikut terkena dampak adanya keputusan sanering tersebut, Ibu kemudian bertanya pada Ayah kok tidak segera memberi tahu akan ada sanering. Dengan kalem Ayah menjawab, itu rahasia negara jadi tidak boleh diberitahukan, sekalipun kepada keluarga sendiri" kata istri ekonom Prof Dr Sri-Edi Swasono itu.


Pendapat Ny. Rahmi Hatta (Istri Bung Hatta)

Di tahun 1950-an, ketika Bung Hatta masih menjabat sebagai wakil presiden Republik Indonesia, keteguhan prinsipnya kembali tercermin dalam kehidupan keluarga. Pada saat sekarang, mungkin saja peristiwa yang saya alami itu dapat direnungkan kembali.

Pada suatu waktu, uang Republik Indonesia (ORI) mengalami pemotongan. Seperti halnya para ibu rumah tangga lainnya, di masa itu saya sedang menabung karena saya berniat untuk membeli sebuah mesin jahit. Tentu dapat dibayangkan betapa kecewanya hati saya saat itu. Ketika Bung Hatta pulang dari kantor, saya mengeluh, "Aduh, Ayah ?! Mengapa tidak bilang terlebih dahulu, bahwa akan diadakan pemotongan uang ? Yaaa, uang tabungan kita tidak ada gunanya lagi! Untuk membeli mesin jahit sudah tidak bisa lagi, tidak ada harganya lagi.?"

Keluhan wanita mungkin mempunyai alasan tersendiri. Tetapi seorang pejabat negara seperti Bung Hatta menjawab, "Yuke, seandainya Kak Hatta mengatakan terlebih dahulu kepadamu, nanti pasti hal itu akan disampaikan kepada ibumu. Lalu kalian berdua akan mempersiapkan diri, dan mungkin akan memberi tahu kawan-kawan dekat lainnya. Itu tidak baik!"

Kepentingan negara tidak ada sangkut-pautnya dengan usaha memupuk kepentingan keluarga. Rahasia negara adalah tetap rahasia. Sunggguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapapun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya?"

Akhirnya sebagai seorang istri saya sepenuhnya dapat memahami prinsip suami saya itu. Berkat pengalaman hidup bersama bertahun-tahun, keyakinan saya terhadap prinsip Bung Hatta makin besar pula. Prinsip itu juga yang menyadarkan saya, agar saya tidak perlu menghalangi sikapnya ketika Bung Hatta berniat untuk meletakkan jabatannya sebagai wakil Presiden Republik Indonesia.




Kutipan: Saformadianto
diambil dari milis jurnalisme

January 22, 2010

sirikit syah berbicara tentang PEREMPUAN BERJILBAB

ini adalah tulisan dari Sirikit Syah yang ada di milis jurnalisme@yahoogroups.com, tanggal 21 Januari 2009.
(Selama ini Sirikit Syah dikenal sebagai penggiat Media Watch dan berdomisili di Surabaya)

Tahun 94-95 saya tinggal di AS. Beberapa sahabat saya laki-laki Afrika dan Amerika mengomentari para perempuan Malaysia yang menutup auratnya termasuk rambutnya. Saya belum berjilbab. Kata laki-laki: "Kalau saya mau kawin, saya gak mau sama perempuan-perempuan Malaysia itu. Seperti beli kucing dalam karung. Gak tahu bentuk tubuhnya, kepalanya, warna kulitnya." Dasar laki-laki! Sebagai perempuan, saya bela perempuan Malaysia: "Bersyukurlah perempuan itu tidak kau kawini, lelaki yang hanya berorientasi pada tubuh dan seks. Mereka menunggu lelaki yang baik, yang akan melamar mereka karena tujuan perkawinan yang lebih luhur."

Sekarang saya berjilbab. Ada saja yang mengejek saya, berjilbab karena sudah tidak muda lagi, berjilbab karena ingin menyembunyikan mundurnya kualitas keindahan rambut, warna kulit, dan bentuk tubuh, berjilbab karena tidak PD (percaya diri), berjilbab karena pengaruh Arab, berjilbab karena dipaksa suami yang kuatir istrinya terlalu menarik bagi rekan-rekan kerja dan relasinya, dst .......

Saya heran di milis yang saya kira intelek ini masih ada laki-laki yang mengatakan "orang berjilbab itu rendah diri dan tunduk pada Arab". Sungguh saya heran pada level intelektual macam ini yang menjadi anggota milis ini. Tentu ada yang tidak suka pada orang berjilbab dan berjubah. tetapi itu selera pribadi, dan tak membuatnya berhak mengejek/mengecam. Banyak juga orang yang tidak suka melihat perempuan mengurai rambutnya dan mempertontokan ketiak dan pusernya. Tetapi saya tak pernah membaca rekan Muslim/Muslimah di milis ini yang mengata-ngatai atau mencela golongan perempuan semacam itu. Cukup disimpan sebagai pendapat pribadi. kebebasan berpendapat, bila diumbar, akan menimbulkan friksi yang tak perlu.

Ada orang mengata-ngatai jilbab dan lainnya diam saja, tetapi ketika serangan dibalas, orang lain yang tadinya diam saja malah bilang "bosan ah!".

Saya mengamati para pemakai jilbab ada yang sangat cantik, berkulit bersih, rambutnya indah, tubuhnya langsing. Mengapa mereka menutup dirinya? Karena menurut mereka, "kecantikan bukan barang dagangan". menurut mereka "kalau ada yang melamar aku, biarlah mereka melamar karena kepribadian atau intelektualitasku. "

Saya sendiri merasa jauh lebih cantik kalau tidak berjilbab. Aku pakai jilbab apa saja tidak pantas. Tak pandai merangkai kain di atas kepala, tidak sempat pula, terburu-buru setiap berangkat kerja. Jujur, aku merasa diriku tidak makin menarik dengan berjilbab dan baju serba tertutup. Saudara-saudaraku ada yang mencela penampilanku seperti pembantu rumah tangga, TKW, dll. tetapi aku sangat PERCAYA DIRI. Aku percaya kalau aku datang di sebuah pertemuan atau kerumuman, mereka melihat what is inside me, who I really am, bukan baguskah bajunya? Orang-orang mendengarkan aku. Aku sangat PD dalam hal ini. Aku tidak pusing dengan baju agak kedodoran, tidak match dengan jilbab, jilbab yang sekadar disampirkan. Aku tak peduli keindahan rambutku tersembunyi. Aku cuek aja kelihatan lebih jelek. Aku berjilbab BUKAN UNTUK KELIHATAN LEBIH MENARIK. Dan aku melihat banyak perempuan berjilbab, cantik atau tidak cantik, tidak pusing-pusing. Mereka adalah orang yang paling
percaya diri yang pernah aku temui.

Tanpa bermaksud mencela, aku sering berpikir ketika melihat perempuan cantik berkulit putih bersih, pakai hot pants sampai pangkal paha, mulus kakinya, perutnya terbuka, bagus pusernya, pakai tank top, halus juga ketiak dan pundaknya, serta rambut yang indah terurai. Aku berpikir: "apa yang tersisa bagi suami mereka kelak?", juga "apakah mereka tidak cukup PD sehingga mempertontonkan milik mereka yang paling berharga?" Mudah-mudahan mereka bukan golongan orang yang tidak PD, atau yang menjual tubuh dan seksualitas untuk memenangkan pergaulan atau perkawinan. Sekali lagi ini bukan celaan, melainkan counter-argument atas tuduhan "perempuan berjilbab adalah orang minder". Semoga tak ada lagi di antara kita yang saling mencela. Perbedaan itu kekayaan. Di Indonesia ada yang pakai sarung gaya orang Madura, ada yang pakai pantalon gaya barat, ada yang pakai jubah gaya Arab. Anda termasuk yang mana? Kebebasan berpendapat tidak perlu menanggalkan sopan santun.

salam,
sirikit syah



best regards,
MAY ICHI YN