July 13, 2010

"ISSUE" SEBUAH USAHA RE-BRANDING



Film sebagai sebuah produk manusia, tidak mungkin bisa dilepaskan dari ideologi-ideologi tertentu yang dimiliki oleh pembuat film. Kemunculan ideology-ideologi tertentu dalam film tersebut bisa saja akan terlihat secara eksplisit ataupun juga implisit. Jika secara eksplisit, ideologi tersebut sudah terlihat, maka otomatis penonton akan bisa melakukan seleksi-seleksi seuai dengan kepercayaan yang dimiliki oleh orang tersebut. Namun hal ini menjadi sulit apabila ternyata juga dipahami bahwa film juga memiliki ideologi-ideologi yang “tak terlihat” secara langsung. Penonton film kemudian akan secara tidak langsung akan terpengaruh oleh film tersebut, padahal didalamnya terdapat sebuah pemaknaan yang lainnya.

Oleh karena itu, sudah saatnya penikmat film harus berubah menuju public yang lebih kritis. Film bukan lagi harus dipandang sebagai sebuah teks yang benar-benar mewakili keadaan nyata, namun film harus dipahami sebagai sebuah teks yang memiliki kenyataan atau ideologi-ideologi yang terpendam. Dibutuhkan sebuah masyarakat yang tidak hanya menonton film, kemudian menerimanya begitu saja. Yang dibutuhkan sekarang adalah individu yang melihat film dengan analisis-analisis sehingga ideologi-ideologi dalam film tersebut akan bisa dibaca dengan mudah.

Pemahaman akan ideologi-ideologi tersebut sangan berguna bagi seorang individu. Hal ini bisa terjadi karena film yang juga adalah produk dari media massa, dirasa bisa mempengaruhi publik dalam jumlah yang sangat besar. Sehingga apabila terdapat kesalahan dalam analisis ideologi dalam film, maka akan berpengaruh pada publik dengan jumlah yang sangat besar.

Disinilah kemudian muncul keinginan untuk menganalisis film dengan pisau strukturalisme. Dalam pemahaman strukturalisme sendiri, film seringkali penuh dengan ideologi tersembunyi. Film sebagai sebuah teks yang utuh, seringkali tidak menggambarkan kenyataan dengan sempurna. Oleh karena itu dengan bantuan pendekatan semiotic, maka akan ditemukan ideologi tertentu yang harus digali lebih dalam dengan pemahaman yang memadai tentang konteks lingkungan yang ada pada saat itu.


ISSUE, SEBUAH FILM MENGENAI REPORTER

Film ini diproduksi pada tahun 2005, dengan pemeran utama Tamara Blezinski, Adrian Maulana dan August Melasz. Setting waktu dari film ini adalah sekitar tahun 2004 atau 2005, ketika pada saat itu Indonesia mulai diserang dengan terror bom di seluruh penjuru Indonesia.

Film ini menceritakan tentang perjuangan seorang reporter (Tamara Blezinski) untuk mengungkapkan sebuah rencana peledakan bom di titik-titik strategis di pulau Jawa. Dimulai dari pengungkapan pelaku pembunuhan, lalu didapatkan kenyataan yang lebih lanjut, bahwa CD yang mengungkapkan pelaku pembunuhan tersebut ternyata juga berisi peta lokasi peledakan bom. Kemudian satu persatu terror mulai masuk dalam kehidupan Tamara Blezinski hingga membahayakan nyawa keluarganya.

Film ini dengan runtut menceritakan alur kerja seorang wartawan televisi, sekaligus juga menggambarkan resiko terburuk yang biasa dihadapi oleh reporter. Penonton juga disuguhi mengenai proses yang terjadi sebelum sebuah berita bisa ditampilkan dimasyarakat, mulai dari rapat redaksi, pemilihan reporter, hingga seorang reporter akhirnya bisa berbicara di depan kamera. Bagi mahasiswa jurusan ilmu komunikasi, tentu saja film sangat menarik karena bisa menggambarkan dunia jurnalisme televisi secara gamblang, baik suka maupun dukanya. Mulai dari mendadak terkenal, hingga ancaman dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dalam pemberitaan. Dan tentu saja tidak terlupa, film ini juga dibumbui cerita percintaan antara Tamara dan Adrian Maulana yang notabene juga adalah seorang reporter. Walaupun pada akhir cerita Adrian justru terbunuh oleh komplotan peledakan bom.


ISSUE, SEBUAH ANALISIS MENGENAI INSTITUSI

Pada awal cerita, penonton disuguhi dengan kritik-kritik social yang ditujukan kepada bangsa Indonesia. Seperti perkataan yang diucapkan oleh sang pemimpin redaksi ketika kebingungan mencari reporter lapangan.

“Sudah 250 orang, tapi tidak ada satupun orang yang becus,

Parah!!

Ini adalah cermin system pendidikan bangsa kita.

Mereka hanya diajarkan untuk menghapalkan kata, tapi performance zero!!”

Dan juga diperlihatkan gambar ketika Tamara berada di bus dan melihat ada seorang ibu yang menggendong anaknya, namun tidak ada satupun penumpang bus yang mau mempersilahkan ibu tersebut untuk duduk.


Penempatan dua kritik social di awal cerita tersebut menggambarkan bahwa film ini juga peduli dengan keadaan yang ada di lingkungan sekitarnya. Secara jelas digambarkan bahwa film ini juga memiliki keinginan untuk menyadarkan masyarakat mengenai kejadian yang ada di sekitarnya.

Tapi kritik social yang ada pada awal cerita tersebut kemudian menjadi penuh dengan tendensi atau kepentingan-kepentingan tertentu ketika penonton disuguhi dengan gambar dimana gambar-gambar tersebut dengan jelas menggambarkan bahwa film ini dibuat oleh RCTI. Gambar pertama menunjukkan MNC sebagai pemilik baru RCTI pada saat itu, lalu gambar kedua menampilkan studio RCTI, sedangkan gambar ketiga berlatar belakang tempat pengambilan gambar “Who wants To Be A Millionaire” yang pada saat itu adalah program unggulan di RCTI.

Mau tidak mau, penonton harus mengubah mindsetnya tentang film ini. Penonton harus menyadari bahwa film ini adalah sebuah usaha dari RCTI (ataupun MNC yang baru saja mengambil alih kepemilikan RCTI) untuk melakukan re-branding mengenai stasiun televisinya, terutama pada acara berita. Hal ini terasa wajar, karena pada saat itu, RCTI mulai mendapatkan saingan keras dari Liputan 6 SCTV yang adalah tayangan berita yang ditayangkan bersamaan dengan tayangan berita di RCTI.

Sebagai sebuah usaha re-branding, film ini secara garis besar menunjukkan bahwa RCTI akan selalu menyajikan berita yang paling terdepan, walaupun menghadapi ancaman apapun. Bahkan juga ketika reporter menghadapi ancaman bom, maka RCTI akan tetap menyajikan berita yang paling akurat.

Dalam film ini, sejak awal digambarkan bahwa dalam proses pemunculan berita di layer kaca, RCTI selalu melakukan rapat redaksi agar bisa didapatkan topic berita yang memang sedang marak pada saat itu. Pada saat rapat redaksi tersebut, juga terungkap bahwa RCTI juga berkomitmen untuk tidak mengutamakan pemberitaan mengenai politik saja, namun selalu terdapat variasi dalam pemberitaan.

Mengenai personil RCTI sendiri, di dalam film ini digambarkan bahwa seriap individu yang bekerja di RCTI adalah individu yang ulet, tidak kenal lelah bekerja hingga larut malam, kritis, tidak mudah puas, hingga selalu siap untuk bekerja di bawah tekanan deadline. Namun meskipun begitu, keselamatan pekerja masih selalu diutamakan dalam setiap hal. Misalnya ketika Tamara diculik, tempatnya bekerja (yang adalah perwujudan RCTI) akan melakukan segala macam cara agar Tamara bisa bebas. Selain itu juga ketika Adrian Maulana diketahui sedang berada di lokasi yang akan di bom, maka instansi tempatnya bekerja akan berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkannya.

Sebagai sebuah usaha re-branding, film ini terasa cukup sukses untuk membawa pemahaman penonton mengenai bentuk baru dari RCTI. RCTI dengan tegas menyatakan bahwa stasiun televisinya akan terus menghadirkan berita yang actual dan kritis terhadap lingkungan sekitar. RCTI melalui film ini, juga menjamin bahwa setiap berita yang ditayangkan oleh stasiunnya, tidak akan mendapat pengaruh dari manapun. Asas netralitas akan selalu diutamakan dalam setiap pemberitaan.

No comments:

Post a Comment