November 24, 2010

CHICHI dan PERNIKAHAN

Betapa sederhana hidup ini, sesungguhnya yang pelik cuma liku dan tafsirannya (Rumah Kaca - Pramoedya Ananta Toer)

mungkin seperti itulah yang paling tepat menggambarkan pendapatku tentang PERNIKAHAN. sederhana tapi memiliki tafsiran yang berliku -yang justru membuatku ketakutan terhadap hal tersebut. yup, aku takut dengan PERNIKAHAN.



------

bagi sebagian orang, menikah adalah sebuah tahapan hidup yang harus dilakukan (yang mendebarkan, dan selalu ditunggu-tunggu). konsep tentang adanya seorang pendamping yang setia hingga akhir hidup kita- tentunya menjadi daya tarik yang kuat.
cerita klasik tentang Cinderella tentunya mewakili tentang keindahan sebuah kisah hidup sempurna yang ditutup dengan pernikahan. gaun putih dan sebuket bunga dengan seorang lelaki yang menggandeng tangan kita erat, seolah menjadi impian klasik bagi gadis-gadis yang merindukan pernikahan.


tapi entah kenapa, hal itu tidak berlaku bagiku.

setiap menghadapi teman atau kerabat yang sedang menceritakan pernikahan, aku justru lebih menunjukkan sikap sinis. dan ke-sinis-anku itu akan bertambah besar ketika menghadapi orang-orang yang berpendapat bahwa pernikahan itu adalah tahap lanjutan setelah kita lulus dari dunia perkuliahan.


hei!!
hidup tak seperti itu. lulus kuliah tak berarti harus ngebet mencari lelaki yang mau menikahi kita. masih banyak hal yang bisa kita lakukan, selain sibuk memikirkan ketakutan jika menjadi perawan tua. pikirkan keinginan untuk menjadi sukses, pikirkan keinginan untuk membahagiakan lingkungan sekitar kita, atau pikiran-pikiran yang lain.
yang jelas, hidup kita bukan hanya sekedar sibuk memikirkan pernikahan.

yang perlu ku tekankan lagi adalah..
jangan pernah takut untuk menjadi perawan tua. gak perlu ngoyo mencari lelaki karena hanya sekedar gak enak gara-gara digosipin tetangga sebagai perawan tua.
kenapa juga harus memperhatikan orang lain yang sedang bergunjing tentang kita. hidup kita adalah milik kita. kita yang menentukan. persetan dengan asumsi-asumsi tak berdasar yang disebarkan oleh orang lain.


selain itu,
jikalaupun kalian sudah menemukan lelaki yang siap menjadi pendamping hidupmu, apakah kalian sudah siap MENIKAH??
menikah tidak hanya berbicara tentang ijab dan qobul lalu sah untuk melakukan hubungan seksual.
MENIKAH LEBIH DARI PADA ITU.

untuk awalnya sajalah..

bisakah kalian memastikan bahwa lelaki itu akan terus dan selamanya hanya memandang kita..?
apakah kalian bisa memastikan bahwa lelaki kita tidak akan berpaling ke wanita lain setelah menikah dengan kita??

itu susah kan?
konsep mengenai seseorang yang hanya akan tertawa di depan kita,
konsep mengenai tidur selamanya bersama satu orang saja,
dan menutup mata di pelukan dia.

itu menakutkan.
seperti apa?? kapan aku menemukan?? itu menakutkan bagiku.


yang jelas,
aku tidak men-tabu-kan PERNIKAHAN. tapi aku lebih memilih untuk hidup sebagai perawan tua daripada harus ngoyo mengejar pernikahan. aku tidak akan takut untuk hidup diluar jalur normal yang ada di dalam masyarakat.

aku lebih memilih untuk hidup sebagai perawan tua daripada harus hidup dengan pernikahan yang terjadi karena tekanan orang lain.

1 comment:

  1. pernikahan adalah pilihan. benar katamu say, tidak harus ngoyo untuk pernikahan karena tujuannya jelas untuk rekreasi dan reproduksi :)

    ReplyDelete